Pagi itu bagi ku adalah pagi yang menentukan. Hari itu adalah kesempaan terakhir untuk bisa memperoleh tawaran beasiswa. Jika aku tidak bisa memperoh score nilai ujian internasional minimal yang ditentukan, pupuslah harapanku.
Jam 7 pagi aku harus berangkat dari rumah menuju tempat ujian dengan angkutan umum, karena mobilku masih di bengkel dua 2 hari sebelumnya. Sialnya kenapa pagi itu orang harus belimpah ruang di jalanan, sehingga membuat jalan macet total. Dalam panik, aku putuskan turun dari angkutan kota dan mulai berlari kecil menuju lokasi yang masih berjarak 1 km. Alhamdulillah aku sampai persis menjelang test sesi pertama akan dimulai. Tapi sungguh aku tidak terlalu yakin pada sesi ini, banyak soal yang aku rasa aku jawab dengan tidak pasti, rasanya konsentrasiku sudah buyar.
Harapan ada di sesi-sesi berikutnya, dua sesi tulis ini berjalan cukup lancar. Hingga akhirnya aku tinggal satu sesi lagi: wawancara. Waktu jeda untukku cukup lama, sehingga aku putuskan untuk makan siang dan sholat zuhur dulu, di salah satu tempat makan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari lokasi ujian, lebih kurang berjarak 300 meter. Malangnya lagi tiba-tiba saja hujan siang itu turun begitu derasnya, pada hal sudah hampir satu minggu Bandung tidak diguyur air anugrah tersebut. Hujan yang biasanya aku suka menjadi hal yang paling tidak aku inginkan hari itu. Aku tidak membawa payung sama sekali. Cukup lama aku berharap hujan itu akan reda. Sayang hingga 30 menit waktu wawancaraku akan berlangsung, hujan tidak juga kunjung reda, jalanan masih macet dan sama sekali tidak aku temukan tukang ojek payung di daerah itu. Terpaksa aku tebas saja hujan itu, dan sampai dilokasi dengan basah kujuk. Dengan menggunakan tissue aku coba untuk membersihkan alakadarnya pakaianku yang sudah tidak nyaman.
Ternyata cobaan itu belum juga selesai, ketika wawancara, penginterview menanyakan kartu indentitasku. Entah kenapa aku tidak menemukan kartu identitas itu di tasku, pada hal rasanya sudah aku siapkan semalam. Akhirnya penginterview mengatakan aku tidak bisa mengikuti sesi tersebut hari itu dan diminta kembali besok hari untuk melakukan tes lanjutan. Benar-benar hari yang apes.
Dua minggu berlalu, dalam ketidakyakinanku, aku terima hasil tes ku. Aku nyaris tak percaya aku lolos dari ujian tersebut dengan hasil yang bagiku sangat memuaskan. Hari itu adalah hari terbahagia bagiku. Cobaan selama ujian rasanya pupus menjadi lebur dengan hasil yang kuperoleh.
Dan kini, Rabu, 8 Juli 2009 adalah juga hari yang menentukan bagi semua rakyat Indonesia. Pagi Rabu itu semua rakyat Indonesia akan memberikan suaranya untuk memilih pemimpin mereka lima tahun ke depan.
Keraguan terhadap keberhasilan pesta demokrasi ini mulai terasa menjelang hari H. Kisruh DPT yang tak kunjung selesai dan masih diperdebatkan oleh banyak pihak, bahkan meminta PILPRES diundur. Masa kampanye yang lebih banyak berisi dengan black dan negative campaign antar para calon dan tim suksesnya. Masalah SARA yang berujung pada unjuk rasa dan bahkan isu mistis sekalipun. Benar-benar membuat hati kecut apakah PILPRES ini akan aman, jujur dan adil.
PILPRES berjalan lancar dan aman. Melalui quick count nantinya kita sudah bisa dimemprediksi calon pemenang atau yang maju keputaran ke-2. Hal tak terduga terjadi, CAPRES dari pihak yang kalah mendatangi CAPRES pemenang pemilu/yang akan terus melaju ke putaran ke 2, mengucapkan selamat dan menyatakan akan mendukung pemerintahan terpilih berikutnya, dan mengajak rakyat Indonesia bersuka cita atas kemenangan bersama mereka tersebut. Seluruh lapisan bertekat untuk mendukung pemerintahan terpilih nantinya dan bersama-sama bertekat membangun bangsa ini.
Indonesia menjadi satu lagi. Perdebatan panas dan diskusi saling menjatuhkan menjelang PILPRES rasanya melebur menjadi satu tekat untuk berbuat yang terbaik untuk kita bersama.
Ah..apa ini akan jadi mimpi saja?. Mimpi kali ini mudah-mudahan jadi kenyataan..awal yang buruk tidak selalu menghasilkan hasil yang buruk pula, kita bisa mewujudkannya...karena semuanya ada ditanggan kita, RAKYAT INDONESIA...mari kita sama-sama mengajak saudara, kerabat, sahabat, teman dan tetangga kita untuk memberikan HAK PILIHNYA dengan benar, sama-sama kita jaga DPT dan TPS ditempat kita masing-masing. Kita buktikan bahwa RAKYAT INDONESIA memang sudah dewasa dan cerdas seperti yang selalu kita sebutkan selama ini.
SELAMAT MEMILIH.
Amin...semoga pasca PILPRES kita makin utuh dan saling mendukung demi Indonesia masa depan...
BalasHapus