Aburizal Bakrie (Ical) adalah salah satu tokoh kontroversial bagi SBY dan JK. Ketika PILPRES 2004, tokoh ini adalah sumber dana utama pasangan SBY-JK. Sehingga tidaklah mengherankan selama masa pemerintahan Presiden SBY, 2004-2009, keluarga Aburizal Bakrie, dapat dengan nyaman tidur kendati ribuan orang sengsara akibat kecelakaan pengeboran di Porong. Ketergantungan keuangan pasangan SBY-JK selama masa kampanye membuat posisi keluarga Bakrie aman dari tekanan publik.
Namun setelah SBY dan JK terpecah dan maju sendiri sebagai capres, Ical harus mencari payung politik sendiri agar kepentingan dan kasus bisnisnya terlindung. Pasti tak mudah, pememang pilpres belum tentu akomodatif kepadanya. Memilih SBY atau JK menjadi dilematis sendiri oleh Ical.
Dalam suasana PILPRES seperti sekarang ini, kasus LAPINDO menjadi sorotan utama publik sebagai beban yang masih tersisa dalam pemerintahan SBY-JK. Apa lagi dalam sebulan terakhir semburan gas baru muncul di beberapa titik desa-desa sekitar desa Karang Bendo, Kecamatan Porong Sidoardjo. Kini jumlahnya telah mencapai 120 titik. Semakin hari semburan baru semakin jauh dari titik awal semburan yakni telah mencapai hampir 1 Km jauhnya. Kemunculan semburan baru itu disebabkan pergerakan gas terhambat oleh karena langkah pembuangan lumpur hanya lewat penampungan di kolam tidak lagi dialirkan lewat sungai Porong.
Memilih SBY, tentu adalah pertimbangan penting bagi Ical. Karena kalau diihat dari dua CAPRES Lain. potensi SBY untuk terpilih lagi sebagai presiden lima tahun mendatang sangat besar . Namun bagaimana pun dia harus konsisten sebagai kader GOLKAR dan tidak bisa melepaskan dirinya untuk tetap setia pada calon presiden yang sudah diputuskan partainya itu sendiri, yang tidak lain adalah JK.
Baik kubu SBY dan JK. Secara tidak langsung sebenarnya mengakui, keberadaan bakrie group adalah sandungan bagi mereka.
Tim sukses SBY sendiri dalam Review Indonesia menyatakan " Kini tentu saja persoalannya berbeda. "SBY tentu saja akan bersikap tegas dan tidak sungkan-sungkan memenjarakannya apabila menang dalam pemilihan mendatang. Setelah memerintah selama lima tahun, menurutnya SBY tidak memiliki ketergantungan keuangan seperti dahulu lagi. Namun hal ini cukup diragukan publik, terutama karena lembaga Freedom Institute yang didanai Ical dan dikepalai Rizal Malaranggeng adalah juga pendiri Fox Indonesia, yang menjadi konsultan Tim Sukses SBY-Boediono. Keberadaan Bakrie dalam tim SBY juga dicurigai dengan hadirnya Anindya Bakrie yang notabene adalah anak Ical sendiri dalam acara deklarasi SBY-Boediono pada tanggal 15 Mei 2009 di Bandung.
Lantas bagaimana dengan kubu JK-Wiranto. Jawaban mereka setali tiga uang. "Ical dianggap tidak memberikan kontribusi apapun terhadap pasangan JK-Wiranto," ujar Pumpida Hidayatullah salah seorang anggota tim sukses JK. Untuk itulah tak ada gunanya bagi pasangan ini untuk menberikan perlindungan politik apabila nanti berhasil memenangkan Pilpres.
Tetapi banyak hal tidak bisa diingkari oleh kubu JK-Win, secara resmi nama Ical masuk dalam 800 tim sukses JK- WIN. Kedekatan dan dukungan Ical terhadap JK untuk memenangkan PILPRES tidak diragukan lagi, dengan kesediaan Ical untuk meminjamkan pesawat pribadinya kepada JK untuk keperluan kampanye di Bali dan Papua (detiknews.com, 20 Juni 2009). Peminjaman pesawat ini bertujuan untuk mempermudah perjalanan JK menuju kedua tempat tersebut tampa harus membutuhkan waktu lama menuju tempat tujuan.
Rupanya kegerahan JK dengan manuver politik Ical untuk merebut posisi sebagai ketua umum GOLKAL sudah mereda. Pernyataan ini juga diperkuat oleh Yudi Crisnandi sebagai juru bicara Tim Sukses JK-Win yang menyatakan bahwa Golkar solit untuk mendukung JK. Melunaknya JK terhadap Ical mungkin disebabkan terlihatnya komitmen Ical dengan melakukan penolakannya terhadap kunjungan DPD I Dan II yan menyokong percepatan Munas Golkar (okezone.com, 14 Juni 2009).
Apakah Ical mulai merasa JK punya peluang besar untuk menang? Sehingga sekarang dia mulai menunjukan kontribusi besarnya pada kubu JK? Bagaimana dengan kakinya di SBY? Entahlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar