Senin, 25 Mei 2009

Pendidikan Politik yang Gagal

Pendeklarasian CAPRES dan CAWAPRES yang terakhir akhirnya kemarin terjadi juga. Kabarnya dana yang dikelurakan untuk mendeklarasian pasangan Mega-Prabowo mencapai lebih dari setengah milyar.

Mega dan Prabowo yang memilih Bantar Gebang sebagai tempat pengukuhan mereka sebagai CAPRES dan CAWAPRES, selain mensimbolkan wahwa dua pasangan ini maju dalam PILPRES dengan membawa jargor ekonomi kerakyatan tapi kabarnya juga bertujuan untuk "menyindir" pendeklarasian yang sudah dilakukan oleh SBY-Boediono yang terkesan mewah ditenggah keterpurukan ekonomi dan masih banyaknya rakyat yang hidup dalam kemiskinan.

Ironi sekali...pendeklarasian ditenggah lingkungan rakyat miskin dengan biaya yang sangat besar, seperti memberikan nuasa memperjelas "gap" antara si Kaya dan Si Miskin. Sekali lagi para elit politik kita telah gagal memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat.

Sebagai salah satu proses demokrasi dalam suatu negara, kita sadari bahwa Pemilihan umum dan juga pemilihan pemimpin negara adalah sebagai dipandang sebagai salah satu proses pembelajaran politik bagi bangsa ini, yang merupakan salah satu hasil dari reformasi sejak tahun 1998. PEMILU 2004 diakui telah membawa Indonesia memasuki babak baru dunia demokrasi politik yang diakui oleh seluruh dunia sebagai salah bentuk keberhasilan penegakan demokrasi pada suatu negara.

Sebagai proses pembelajaran demokrasi, setiap aktivitas politik menuju demokrasi tersebut tentu akan menjadi bagian proses pendidikan politik bagi segenap lapisan bangsa. Bayle and Mulcahy (1993) menyebutkan bahwa pendidikan politik publik akan mengajari publik bagaimana melihat dan mengunakan fakta dan informasi spesifik dan relevan untuk menpengaruhi dan menciptakan kebijakan publik yang akan menguntungkan bagi barang publik (public good) dan mampu memberikan pencerahan bagi rakyat tentang kebenaran self interest-nya.

Proses demokrasi seharusnya mampu membawa publik untuk memahami bahwa public good - yang biasanya selalu diidentikan dengan perbaikan dan pencapaian kesejahteraa- tidak lah sekedar pemenuhan self interest mereka semata secara individu. Namun melalui proses demokrasi seharusnya politik warganegara(Citizen politics) mampu mendengar dan merangkul banyak sudut pandang dan mencoba untuk menemukan solusi yang secara dapat memberikan keseimbangan dari berbagai perbedaan interest tersebut.

Bayle and Mulcahy juga menjelaskan, bahwa pendidikan politik publik membutuhkan pengetahuan yang tidak hanya bersifat sain, teknis dan faktual. Namun pendidikan politik juga membutuhkan dan memiliki peran besar dalam meninformasikan sistem nilai kepada publik yang dapat membangun nilai moral, etika dalam masyarakat.

Pendidikan politik publik menjebatani gap antara " para ahli" (elit politik) dan rakyat. "Para ahli" mungkin memiliki jawaban-jawaban teknis untuk berbagai isu-isu publik, sementara rakyat akan melihatnya sebagai suatu dalam konteks moral dan politik. Ini adalah tantangan terbesar dalam proses demokrasi, bagaimana membawa publik bersama dengan "para ahli" dimana sudut pandang masing-masing pihak mampun dipahami dan dihargai bersama untuk pencapain tujuan bersama. Dengan kata lain pendidikan politik seharusnya membuat publik (rakyat) menjadi "ahli" juga dalam memahami nilai-nilai dalam tatanan peradapannya dan menentukan pilihan action untuk perubahan kehidupan yang lebih baik.

Di suasana pemilu dan pilpres seperti ini, seharusnya proses tranfer pembelajaran ini harus bisa terjadi. Dimana publik bisa mendapat pembelajaran untuk membangun kehidupan mereka yang lebih baik, tentu saja tidak hanya sekedar pemenuhan kebutuhan hidup dasar mereka, namun juga sebuah masyarakat yang memiliki nilai moral dan integritas sehingga mereka bisa menjadi orang yang lebih beradap. Sayangnya tranfer ini tidak terjadi dalam dunia politik kita. "Para ahli" yang tidak lain adalah para elit politik tidak memberikan pembelajaran yang baik ketika mereka hanya mempertontonkan sebuah perlombaan perebutan kekuasaan dengan cara-cara seperti sekedar membuat aksi tandingan dengan apa yang dilakukan oleh lawan politik mereka. Meraka melupakan esensi mereka sebagai "public figure" yang akan menjadi "contoh" bagi masyarakat. Adalah benar deglarasi SBY yang mewah tidak mencerminkan bangsa sedang dalam krisis. Tapi deklarasi Mega dan Prabowo yang katanya dekat dengan rakyat juga dengan biaya yang luar biasa besarnya, jadi apa bedanya?, kalau bukan sekedar "perlombaan Fashion show" politik...kedua-duanya toh mewah dari sisi biaya.

Tranfer nilai juga gagal dilakukan oleh elit-elit politik ketika mereka hanya membangun pencitraannya dengan melakukan black campaign terhadap lawan politik dengan menghembuskan isu-isu berbunyi nada miring yang melibatkan salah seorang tokoh lawan politik dan memaparkan kekurang lawan politik. Isu-isu perubahaan yang ditawarkan terkalahkan dengan isu-isu negatif lawan politik. Sehingga jangan salahkan rakyat ketika berkomentar "saya tidak memilih si anu karena lamban", atau "saya tidak milih si badu karena banyak bacot dan lain-lain". Inti dari pesan politik pembaharuan itu tidak sampai, karena nilai yang diterima oleh masyarakat adalah justifikasi tokoh yang tidak esensial.

Sangat disayangkan "para ahli-ahli" kita hanya memberikan pendidikan moral yang rendah dibadingkan menjadikan rakyat menjadi orang cerdas untuk perubahan hidupnya yang lebih baik.

Tulisan ini juga dipublikasikan pada Politikana.com pada: Senin, 25 Mei '09 07:14

Rabu, 20 Mei 2009

Aku tidak Kecewa dengan Indonesia

Dua hari ini saya membaca artikel-artikel yang bicara berbagai masalah sosial, ekonomi dan politik di negeri ini. Tiba-tiba membuatku berfikir...benar juga ya...apakah sekarang kita ini tidak berbudaya lagi?. Seketika itu saya seperti merasa bangsa ini sedang menuju sebuah awan gelap masa depannya.

Seperti biasa, setelah sholat subuh sambil meyiapkan sarapan pagi untuk keluarga, saya biasa membuka beberapa beberapa web favorit untuk membaca berita-berita pagi.

Saya sontak heran ketika seorang hakim di Saudi di saudi membenarkan suami menampar istrinya karena pemborosan dalam sebuah seminar tentang kekerasan rumah tangga di negeri tersebut. Walau aksi mendapat kecaman, tapi bagi saya itu sebuah pernyataan aneh dari seorang hakim. Sebagai penegak hukum rasanya kurang pantas baginya untuk membenarkan sebuah kekerasan fisik apa pun itu alasanya. Alhamdulillah walaupun kekerasan rumah tangga itu juga adalah fenomona umum di negeri ini..tapi tidak ada satupun orang di negeri ini yang menyetujui kekerasan suami terhadap istri itu adalah tidakkan yang dibenarkan, apa lagi oleh penegak hukumnya. Aku tidak merasa kecewa dengan Indonesia.

Di headline berikutnya memberita berikunya adalah hasil pertemuan Obama dengan Netanyahu tentang palestina. Netanyahu menegaskan bahwa dirinya ingin mengadakan pembicaraan damai dengan Palestina, namun dia menolak menggunakan kata-kata "solusi dua negara", yakni negara Israel dan Palestina. Artinya Israel tidak akan pernah berhenti merong-rong negara islam ini. Setelah pembunuhan masal yang dilakukan oleh negara yahudi ini dengan cara tidak beradap terhadap anak-anak palestina, tidak sedikit pun niat baik pemimpin negeri ini untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Sekali lagi saya merasa bersyukur tinggal di Indonesia. Di negara yang penduduknya lebih 88,5% muslim ini, kita hidup bisa dibilang rukun, walaupun gejolak-gejolak perbedaan itu ada, tapi kita masih itu tidak memecah belah bangsa ini...kita masih Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita masih bisa bangun pagi dengan harapan lebih baik dan bisa beraktivitas seperti biasa, tanpa takut (minimal dalam beberapa tahun belakangan ini). Sekali lagi aku merasa tidak kecewa dengan Indonesia.

Netanyahu, pemimpin negara tak beradap itu tidak hanya memecah belah agama orang lain tapi juga penghancur bangsa lain. Terlalu mencampuri urusan negara lain, sama dengan sekutunya negara adidaya -USA dimasa pemerintahan George W bush. Tapi negara ku Indonesia, tidak pernah seperti itu...malah bangsa Ini berkali-kali sebagai duta keamanan dunia. Untuk kesekian kalinya aku kembali bersyukur dan Aku tidak kecewa dengan Indonesia ku.

Kalau dipikir-pikir, ibaratkan Indonesia ini sebagai individu dari disekian individu dalam komunitasnya (negara-negara seluruh dunia) Indonesia mungkin salah satu negara baik...ketika negara lain "berbuat diskriminasi" dengan negara lain...tapi kita tidak melakukan itu. Kita tidak penah mencaplok milik orang lain seperti yang dilakukan oleh negara tetangga kita-Malaysia, mengambil pulau negara lain dan mengakui hak miliknya, mengakui budaya orang lain sebagai budaya sendiri...Aduh apa ga malu tuh.

Ah....aku lega, ternyata aku tidak perlu terlalu kecewa lagi dengan Indonesia ku...tiba-tiba awan gelap yang muncul dibenakku tadi malam berubah mencari awan biru yang cerah kembali.

Aku tidak perlu merasa kecewa dengan indonesiaku. Baik-buruk aku yakin Indonesia masih punya masa depan cerah.

Tulisan ini sudah dipublikasikan di Politikana.com pada: Rabu, 20 Mei '09 12:29

Selasa, 19 Mei 2009

Kisah Si Kancil dan Si Keong

Masih ingat kisah si Kancil dan Si Keong? Dongeng masa kecil kita dulu?

Siapa yang tidak kenal dengan si Kancil, binatang kecil (mirip kijang) yang terkenal cerdik dan lincah. Namun binatang lincah ini sering sekali sesumbar dengan kelebihannya tersebut.

Pada suatu hari, Si Kancil menantang semua penghuni hutan untuk balap lari. Tidak satu hewan pun menyanggupinya, kecuali seekor keong -seekor makhluk lunak dan sangat lamban. Tapi siapa sangka di Kancil dikalahkan oleh si Keong. Apa sebenarnya yang dilakukan oleh si Keong sehingga dia dapat memenangkan pertandingan itu? Ternyata sehari sebelum lomba berlangsung. Si Keong mengumpulkan teman-teman sesama keong-nya dan mebuat strategi dengan menempatkan setiap keong pada setiap rute yang akan dilewati untuk lomba tbut. Sehingga ketika sampai di Finish semua makhluk dalam hutan menduga bahwa si Keong lah yang telah sampai di Finish duluan.

Itu hanyalah sepenggal kisah Si Kancil dan Si Keong di hutan belantara sana. Apakah Fabel masa kecil ini juga akan terjadi dalam PILPRES 2009 ini?

Yang jelas hingga tahap pertama ini si Kancil sudah dibuat kalang kabut oleh Si Keong. Si Keong berhasil memperoleh suara terbanyak hasil perhitungan KPU (sukses1).

Si Keong sengaja membuat si Kancil "BT berat" dan meninggalkannya dengan syarat CAWAPRES yang dikeluarkannya. Membuat Si Kancil BT memang sudah strategi Si Keong bukan sekedar "mendepak" si Kancil, namun untuk memecah belah koalisi raksasa yang dibangun oleh partai-partai yang tidak puas dengan hasil pemilu. Masalahnya bukan sebatas ketidak puasan pemilu saja, tapi dalam koalisi itu telah bergabung dua Jendral rival militernya, yang akan terus merong-rong KPU dan yang pasti akan berimbas juga kepada dirinya sebagai pejabat yang sedang menjabat saat ini.

"Minggatnya" si Kancil sudah dipastikan akan mendekatkan si Kancil pada koalisi tersebut. Tapi juga sudah diperhitungkan salah seorang jendral rivalnya akan tertarik bersanding dengan si Kancil untuk mencalonkan diri sebagai CAPRES dan CAWAPRES (Karena pada dasarnnya mereka berdua memiliki flatform yang hampir mirip) Sehingga koalisi dan dua militer rivalnya pecah (sukses 2)

Tahap berikutnya adalah bagaimana menyandingkan pasangan berikutnya. Si Keong sudah memperhitungkan untuk membuatnya mudah melenggang ke Istana, Si Keong harus mampu membuat 3 pasang CAPRES dan CAWAPRES dengan memecah dukungan dua Jendral rivalnya. Pasca koalisi raksasa goyang, Si Keon sengaja mendekati diri pada partai yang besar berikutnya , sepertinya ini bukan tawaran benar-benar serius untuk mengajak koalisi. Tujuannya tidak lain adalah agar Jendral yang satu lagi segera merapat ke partai ini. Pasalnya Si Keong melihat, pasca goyangnya koalisi, terlihat Jendral satu ini ingin jalan sendiri dan mencari potensi untuk membangun kekuatan baru. Makanya si Keong tidak meminta orang kepercayaannya untuk ke partaik besar ke-3 ini, tapi malah minta orang partai yang didekati si Jendral untuk menjadi "comblang"nya dengan partai besar ke-3. Agar terjadi pecah dalam tubuh partai ini (sukses 3).

Si Keong mendorong si "comblang" agar lebih agresif lagi mendekatan partai besar ke-3. Dan akhirnya benar.. Si Jendral langsung kelabakan dan mulai dekat-dekat lagi ke kubu partai besar ke-3.

Pendeklarasian Pencalonan Si Keong dan pemberitahuan siapa yang akan menjadi CAWAPRESnya yang last menute adalah strategi berikutnya. Ini adalah upaya terakhir agar Si Jenderal segera mempersunting Partai besar ke-3. Karena mereka tidak punya waktu lagi untuk berfikir panjang..dan tidak bisa lagi berstrategi...waktu tinggal hitungan jam. Mempersunting Si Jendral ini adalah harus...karena kalau tidak maka kemungkinan Partai besar ke-3 dan Si Jendral bisa saja akhirnya mendukung Si Kancil...dan itu adalah bahaya...Ternyata upaya Si Keong yang ini...SUKSES BESAR (sukses 4).

Kalau kita lihat episode Si Kancil dan SI Keong di hutan sana dengan Si Kancil dan Si Keong di PILRES kita saat ini hampir mirip. Si Keong hingga tahap ini sudah menang besar..sesuai dengan skenarionya.

Jadi salah besar yang dibilang lamban itu kalah hebat dari yang cepat. Bahkan yang lambatlah yang membawa arus masa sesuai dengan rencananya.

Tapi pertarungan itu belum selesai...dan sekarang sudah masuk babak 2. Dan si Keong tidak berhadapan dengan si Kancil lagi...tapi rivalnya tambah satu (yang memang sengaja dibuatnya)....Apakah Si Keong akan bisa memperdaya dua rivalnya ini lagi?

Yang Jelas Si Kancil saat ini harus lebih berhati-hati....cepat dan lincah boleh, tapi kalau asal cepat dan tidak cermat..(kalau istilahnya si Keong : suka grasak grusu), janganlah heran SI Keong akan menyesaikan kisahnya ini dengan happy ending lagi.

Jadi mari kita tunggu babak berikutnya...kisah Si Kancil dan Si Keong ini :-).

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di Politikana.com pada: Selasa, 19 Mei '09 06:37

Minggu, 17 Mei 2009

Pilpres Selamatkan Generasi Bangsa

Panasnya suku politik saat ini semakin terasa, apa lagi untuk PILPRES Juli mendatang sudah dipastikan akan ada tiga pasang CAPRES dan CAWAPRES yang pasti akan bertarung.

Kalau kita perhatikan secara sekseama, ketiga pasangan CAPRES dan CAWAPRES tersebut memiliki penekanan agenda yang hampir sama, yaitu sektor ekonomi. Walaupun tentunya dengan pendekatan yang berbeda-beda, yang akan menjadi competitive advantage masing-masing calon. Agenda berikunya sudah pastilah bidang pendidikand dan kesehatan (standar lah...pasti sekolah dan fasilitas kesehatan gratis).

Yang jadi pertanyaan saya sekarang, apakah hanya itu yang menjadi barometer keberhasilan sosial kita sekarang ini dan puluhan tahun ke depan? Lihat saja dijalanan berapa banyak pengemis dan peminta-minta mencari belas kasihan untuk bertahan hidup (terlepas apakah mereka dikoordinir oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab atau bukan). Bagi mereka mungkin tidak ada bedanya sekolah gratis atau bayar, toh mereka juga tidak akan mengirimkan anaknya untuk sekolah. Begitu juga kesehatan gratis, toh sakit tidak setiap hari atau kalaupun gratis mereka butuh identitas untuk bisa memdapatkan fasilitas tersebut. Bagi mereka yang penting makan dan kebutuhan sehari-harinya terpenuhi.

Adalah benar bahwa kemiskinan harus dibenahi segera. Dan adalah benar juga ekonomi yang berpihak pada rakyat harus jadi komitmen dan memiliki langkah nyata yang jelas oleh para pemimpin RI kedepan. Tapi mau berapa lama lagi hal ini dirasakan semua rakyat Indonesia, sementara semakin banyak anak-anak dijalanan tak terurus, semakin meningkat anak-anak putus sekolah untuk bekerja membantu orang tuanya, dan semakin tak terkendalinya jumlah anak-anak yang kelaparan dan kekurangan gizi.

Bangsa ini akan kehilangan banyak generasi untuk bisa membawa bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik. Anak-anak adalah penerus bangsa, anak-anak adalah cermin bangsa kita masa depan. Meraka harus segera diselamatkan. Di luar negeri, bukan hanya anak-anak terlantar, tapi anak-anak yang dianggap tidak mendapat pengasuhan yang pantas dari orang tuanya akan diambil oleh pemerintah . Mereka akan didik dan lindungi dengan pantas, hingga kemudian mereka menjadi dewasa dan sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.

Saya melihat, perhatian untuk menyelamatkan anak-anak ini seharusnya juga menjadi agenda penting oleh para CAPRES dan CAWAPRES kedepan. Memang pengemis dan peminta-minta itu tidak bisa 100% akan kita hentikan. Minimal selamatkan saja anak-anaknya ini. Saya juga tidak tahu persis kongritnya seperti apa, apakah seperti panti asuhan yang dikelola penuh pemerintah, asrama anak-anak negara dimana mereka disini disekolahkan atau disalurkan bakatnya, apakah itu olah raga atau lain-lain, atau bentuk lain lain, yang penting anak-anak ini tidak akan menjadi sampah-sampah berikutnya dalam masyarakat. Orang tua mereka boleh gagal saat ini, tapi mereka harus jadi orang berguna kedepannya, minimal berguna untuk diri mereka sendiri dan keluarga masa depannya

Memang saat ini kita memiliki KOMNAS perlindungan anak-anak, namun lembaga ini tidak akan memiliki kekuatan legal untuk mewujudkannya. Saya pikir pemerintah harus memiliki komitment dan sudah mulai mekakukan interpensi langsung dalam menyelamatkan generasi bangsa ini. Mungkin lebih cocok agenda ini pegang dibawah kementrain sosial kebinet kedepan. Sehingga menteri sosial kerjaannya tidak sekedar memberikan bantuan bila bencana atau konflik ( tidak menjadi lahan empuk korupsi bagi para pejabatnya), namun lebih kongkrit untuk menyelamatkan generasi depan kita.

MARI SELAMATKAN GENERASI BANGSA DEMI MASA DEPAN INDONESIA YANG SEJAHTERA.


Tulisan ini juga pernah diterbitkan di Polikana.com pada: Minggu, 17 Mei '09 06:44


Jumat, 15 Mei 2009

Diari Seorang Duda Pencari Cinta

Aku baru saja menduda, karena jodoh saya sebelumnya memutuskan untuk meninggalkan saya setelah 5 tahun menikah. Kisahnya cukup tragis..dia sengaja selingkuh di depanku...dan sudah acap kali menyatakan akan meninggalku. Aku tidak mengambil pusing...ah..biarkan saja.

Suatu ketika, tiba-tiba dia minta kami kembali seperi dulu....gimana ya??...sebenarnya aku juga sudah ga mood lagi. Tapi aku tidak bisa menolaknya menta-mentah, aku juga tidak mau dia merasa aku buang...biarkan saja dia sadar sendiri. Akhirnya waktu itu datang. Dia akhirnya benar-benar minta cerai....alhadulillah...akhirnya kami bercerai juga...(hi..hi...hore..hore..horeeeeee...).

Ternyata dia memang menikah duluan dari ku:-

Setelah menduda, aku memang sudah berniat untuk menikah lagi. Semua orang mendukung rencanaku itu. Banyak pihak mencoba menjodohkan aku dengan orang-orang pilihannya. Aku sempat bimbang juga..Banyangkan saja aku harus memilih 19 orang-orang terbaik untuk pendampingku...(emm..emmm...tapi kalau dipikir-pikir aku duda keren juga ya...he..he..).

Namun akhirnya aku temukan jodohku itu...Seseorang yang menurutku adalah yang terbaik dari semua calon yang ku punya...seorang baik menurutku...dan yang jelas..aku yakin dia tidak akan selingkuh lagi ;-) dimasa pensiunku nanti.

Tadinya aku ingin memberikan kejutan sama semua orang, siapa yang akan jadi jodohku...namun ternyata tercium juga...Ada yang mendukungku namun suara yang menentangku lebih jelas terdengar...apa lagi dari pihak-pihak yang menginginkan sekali menjodohkan aku dengan orang pilihannya. Mereka ngambek....tidak mau dekat-dekat lagi sama ku..dan akan meninggalkan aku. Bahkan mereka menggalang masa untuk mendemo pilihanku.

Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur cinta sama pilihanku...dan aku sudah menentukan hari pernikahan kami. Bagi ku ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bukan maksud hati untuk tidak mengindahkan teman-teman yang akan menjauhiku (soale sudah kebelet 'kawin'nih he..he....ga ngerti amat sih..). Sekarang terserah mereka...pokoke aku mau 'kawin' SEKARANG.

Tulisan ini sudah dipublikasikan di Politikana.com pada: Jumat, 15 Mei '09 21:05